Mendagri: Pemilu Bukan Saling Mengalahkan, apalagi Menghancurkan

Pemilu bukan sebuah perang atau perlombaan. Karena itu, sudah sepatutnya Pemilu dapat terlaksana dengan sejuk dan damai.

“Pemilu adalah sebuah kontestasi. Sebuah festival. Bukan suatu war(perang) atau lomba,” kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo.

Hal itu dikemukakan Tjahjo dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (14/11). “Pemilu bukan saling mengalahkan, apalagi saling menghancurkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh pihak perlu menyukseskan Pemilu. “Karena itu Pemilu dinamakan juga sebagai pesta demokrasi. Tentu diharap kan semua kontestan merasakan antusiasme,” imbuhnya.

Menurutnya, rakyat harus tetap diutamakan. “Dalam kontestasi pasti ada posisi lebih dulu atau posisi lebih unggul. Namun demikian yang menang adala tetap rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Tjahjo berharap agar kepala daerah, wakil kepala daerah serta pimpinan DPRD dapat mengawal dan memberikan bantuan serta fasilitasi kepada jajaran penyelenggara Pemilu.

Dukungan pemerintah daerah (pemda) tersebut, tertuang dalam Pasal 434 Undang-Undang (UU) 7/2017 tentang Pemilu.

Bentuk bantuan dan fasilitasi pemerintah dan pemda diantaranya meliputi penugasan personil pada sekretariat PPK, panwaslu kecamatan, dan PPS. Kemudian, penyediaan sarana ruangan sekreatriat.

Selain itu juga memberikan dukungan pelaksanaan pendidikan politik bagi pemilih untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.

“Mengenai Pemilu Serentak 2019 ini kewajiban kita semua untuk menyukseskan,” demikian Tjahjo di Kantor BPSDM Kementerian Dalam Negeri, Jakarta.

Ia optimistis jajaran KPU, Bawaslu, DKPP, memiliki integritas dan profesionalisme. Ditambah dengan peran TNI, Polri, BIN, Kejaksaan, pemerintah daerah dan elemen masyarakat lainnya.

“Semua tentu sudah memetakan dengan detil berkaitan dengan potensi yang muncul pada setiap tahapan Pemilu,” ujar Tjahjo.

Add Comment