Perbedaan Jangan Jadi Permusuhan

Tahun 2019, Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi dengan memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) yang baru. Dua pasang kandidat Presiden dan Wakil Presiden, yaitu dari petahana, Joko Widodo- Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, masing-masing telah mendapat no urut, untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden.

Para pendukung kedua pasangan calon tersebut, sudah mulai menyatakan dukungan melalui media sosial seperti WhatsApp dan Facebook. Masing- masing mempromosikan kehebatan calonnya di media massa. Terhadap perbedaan pilihan politik tersebut, Wakil Ketua MPR, Mahyudin mengingatkan agar hal tersebut, tidak membuat masyarakat saling bermusuhan.

Ditemui di acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kecamatan Sambaliung dan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (27/10), Mahyudin mengatakan, dalam Pemilu sebenarnya sangat sederhana, kalau tidak suka dengan salah satu calon, ya jangan dipilih namun kalau suka silahkan pilih. “Tidak perlu sampai bertengkar antar tetangga, karena tetangga itulah yang akan menolong, kalau bapak dan ibu mendapat kesulitan,” kata Mahyudin kepada para peserta.

Permusuhan dan perpecahan akibat perbedaan pilihan, menurut Mahyudin, merupakan salah satu tantangan kebangsaan saat ini. Karena itulah, MPR melakukan sosialisasi agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga dengan baik.

Dalam sosialisasi yang dihadiri puluhan masyarakat Sambaliung, Mahyudin mengatakan, sebagai bangsa yang terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa, hendaknya saling menjaga kerukunan dan tidak  boleh saling menghina, melecehkan apalagi menyerang pihak lain. “Perbedaan inilah yang kadang, sering dibawa-bawa ke ranah politik, dan itu yang harus diwaspadai,” katanya.

Pemahaman yang sempit dalam perbedaan tersebut, kata Mahyudin, salah satunya diakibatkan oleh pemahaman yang lemah terhadap agama. Pemahaman agama yang lemah bisa memunculkan sikap radikalisme hingga akhirnya bisa menciptakan terorisme.

Add Comment